Bupati Mojokerto Larang Pelaksanaan Salat Idul Adha 1442 H/2021 M di Lapangan, Masjid, Musala, dan Tempat Umum

  • Whatsapp

Mojokerto l Mediasaberpungli.com – Bupati Mojokerto Hj. dr. Ilfina Fatmawati, M.Si. melarang masyarakat Mojokerto mengadakan kegiatan Salat Idul Adha 1442 H/2021 M baik di lapangan, masjid, musala dan tempat umum lainnya.

Bupati meminta ibadah Salat Idul Adha itu dilaksanakan di rumah masing-masing saja.

Read More

Larangan Bupati Mojokerto tersebut tertuang dalam Surat Edaran SE Bupati Mojokerto nomor : 130/1997/426-013/2021 tentang Pemberlakukan PPKM Darurat Covid-19 Di Tempat Ibadat dan Petunjuk Pelaksanaan Malam Takbiran, Shalat Idul Adha Dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban 1442 H/2021 M Di Kabupaten Mojokerto, tertanggal 14 Juli 2021.

Dalam SE Bupati dimaksud, terdiri dari tiga halaman dan tiga butir A, B dan C.

Pada butir C Pelaksanaan ada empat nomor.

Pada butir C Pelaksanaan tertulis nomor :
1. Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadat.
a. Selama pemberlakukan PPKM Darurat, peribadatan di tempat Ibadat (masjid, musala, gereja, pura, wihara dan klenteng serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat Ibadat) yang dikelola masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan DITIADAKAN sementara dan kegiatan peribadatan dilakukan di rumah masing-masing.
2. Malam Takbiran dan Salat Hari Raya Idul Adha.
a. Penyelenggaraan malam takbiran di masjid/mushalla dapat dilakukan dengan audio visual dan tidak mengundang jama’ah.
b. Takbir keliling baik dengan arak-arakan berjalan kaki, arak-arakan kendaraan atau dengan lainnya DITIADAKAN.
c. Salat Hari Raya Idul Adha 1442 H/2021 M di masjid/mushalla yang dikelola masyarakat, instansi pemerintah, perusahaan atau tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat Ibadat DITIADAKAN.

SE Bupati Mojokerto itu sesuai dan sejalan dengan SE Gubernur Jawa Timur nomor 451/14901/012.1/2021 tentang PPKM Darurat di Tempat Ibadat, dan Petunjuk Pelaksanaan Malam Takbiran, shalat Idul Adha dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M Di Jawa Timur tertanggal 7 Juli 2021.

Telah sesuai dan sejalan pula dengan Inmendagri nomor : 15 Tahun 2021 sebagaimana telah diubah dengan Inmendagri nomor 19 Tahun 2021 tertanggal 9 Juli 2021 terkait PPKM Darurat Jawa-Bali.

Telah sesuai dan sejalan pula dengan SE Menteri Agama nomor 17 Tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadat. Malam Takbiran, Salat Idul Adha dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban 1442 H/2021 M di wilayah PPKM Darurat.

SE Bupati Mojokerto tersebut juga sesuai dan sejalan dengan
SE Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau seluruh umat Islam khususnya Nahdliyin untuk melaksanakan ibadah Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah/ 2021 Masehi di rumah masing-masing.
Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 4162/C.I.34/07/2021 yang ditanda tangani oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirajd, Sekretaris Jenderal Hemly Faishal Zaini, Pejabat Rais Aam Miftahcul Akhyar dan Khatib Aam Yahya Cholil Staquf.
“Kepada seluruh umat Islam dan warga Nahdlatul Ulama dalam menyambut dan melaksanakan ibadah Idul Adha 1442 Hijriah beserta seluruh rangkaian kegiatannya di rumah masing-masing bersama keluarga inti dengan hikmat,” demikian isi surat edaran tersebut yang dikutip Kompas.com, Senin (19/7).

Juga sejalan dengan SE PP Muhammadiyah Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 05/EDR/I.0/E/2021 tentang imbauan, perhatian, kewaspadaan penanganan Covid-19 serta persiapan menghadapi Idul Adha 1442 H/2021 M tertanggal 2 Juli 2021.

9. Khusus terkait dengan Iduladha 1442 Hijriah dan rangkaiannya Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sebagai berikut. a. Takbir keliling tidak disarankan dan sebaiknya dilakukan di rumah.
b. Salat Iduladha di lapangan/masjid/tempat fasilitas umum sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan.
c. Salat Iduladha bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masingmasing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti salat Id di lapangan.
d. Hukum ibadah kurban adalah sunah muakkadah bagi muslim yang telah memiliki kemampuan untuk berkurban dengan tata cara sesuai tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
e. Pandemi Covid-19 menimbulkan masalah sosial ekonomi dan meningkatnya jumlah kaum duafa, karena itu sangat disarankan agar umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan kurban.
f. Bagi mereka yang mampu membantu penanggulangan dampak ekonomi Covid-19 sekaligus mampu berkurban, maka dapat melakukan keduanya.
g. Membantu duafa maupun berkurban keduanya mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, namun berdasarkan beberapa dalil, memberi sesuatu yang lebih besar manfaatnya untuk kemaslahatan adalah yang lebih diutamakan.
h. Apabila ada yang berkurban maka dapat dilakukan alternatif berikut ini dengan urutan skala prioritas:
1) kurban sebaiknya dikonversi berupa dana dan disalurkan melalui Lazismu untuk didistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar atau diolah menjadi kornet (kemasan kaleng);
2) penyembelihan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) agar lebih sesuai syariat dan higienis;
3) jumlah hewan yang disembelih di luar RPH hendaknya dibatasi (tidak terlalu banyak) untuk menghindari kemubaziran dan distribusi yang merata, disembelih oleh tenaga profesional, mengurangi kerumunan massa, dan pemenuhan protokol kesehatan yang ketat sehingga dapat menjamin keamanan dan keselamatan bersama;
4) hewan kurban berupa kambing atau domba sebaiknya disembelih di rumah masing-masing oleh tenaga profesional dan apabila mampu dapat disembelih sendiri oleh orang yang berkurban (ṣāḥibul-qurbān); dan
5) pembagian daging kurban diantar oleh panitia ke rumah masing-masing penerima dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. i. Tuntunan Salat Idul Adha dan Kurban pada Masa Pandemi Covid-19 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Edaran ini. (Tim Sembilan)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *